Kali ini saya akan menulis suatu hal yang berbeda dari hal sebelumnya. Lebih santai, dan bertema umum. Saya akan membahas dan meluruskan persepsi kita mengenai kesuksesan. Sebelum membahas kesuksesan itu sendiri, lebih baik kita bertanya pada diri kita sendiri: apa itu kesuksesan?
Kesuksesan yang sebenarnya bukan soal prestise atau kebanggaan. Bukan pula masalah status, ekonomi, relasi ataupun sejenisnya yang sering kita pikirkan. Sesungguhnya, kesuksesan adalah sebuah proses. Bagaimana kita bisa merasa puas (dalam hal yang baik) dengan apa yang kita capai, itupun sudah berupa kesuksesan walaupun bagi orang lain bukan merupakan sesuatu yang hebat. Ini bukan masalah menjadi "manusia yang sempurna", tapi bagaimana kita "berproses menjadi yang sempurna" dan kemudian barulah membuat orang lain bahagia, walaupun kenyataannya kesempurnaan tidak akan pernah kita raih. Saya pernah terjebak oleh stigma yang salah tentang kesuksesan selama belasan tahun, dan menyebabkan saya menjadi manusia yang lupa bersyukur, terlalu ambisius, dan iri terhadap orang lain. Tetapi ketika saya membaca sebuah kisah dari Michael Port dalam bukunya Book Yourself Solid dibawah ini, saya menyadari bahwa kesuksesan adalah bagaimana kita menjalani proses tersebut dengan sebaik-baiknya menurut pribadi kita, dan bukan ditentukan oleh orang lain!
Untuk seorang anak kecil, mungkin kesuksesan dapat mereka artikan seperti berhasil berjalan (untuk bayi menjelang batita mungkin), berhasil mendapat apa yang mereka inginkan dari orangtua, menjadi juara satu dalam lomba menyanyi dan sebagainya. Untuk seorang pelajar, kesuksesan bisa berarti mendapat nilai A atau sempurna secara terus menerus, mendapat predikat siswa terbaik dan memiliki banyak teman. Orangtua menganggap kesuksesan adalah ketika mereka memiliki harta dimana-mana (yang tidak terhitung lagi), punya rumah dan mobil mewah, pekerjaan terpandang, status terhormat, anak yang pintar dan lainnya. Masih banyak lagi definisi kesuksesan dalam masyarakat luas, dan kita semua pasti tahu kesuksesan seperti apa yang pada umumnya diinginkan banyak orang.
Saya sempat berpikir suatu malam tentang hal ini. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang pernah merasa puas, bukan begitu? Karena inilah sifat dasar manusia. Orang-orang semakin serakah, mengambil harta orang lain, menjatuhkan satu sama lain, tidak peduli terhadap penderitaan dan kekurangan orang lain. Konsumerisme dan materialisme menjamur, Tuhan mulai dilupakan, emosi cepat timbul, perasaan membeku. Banyak dari kita yang pasti sudah merasakan hal ini. Apa yang menyebabkan semua ini? Jawabannya hanya satu: ambisi untuk meraih kesuksesan.
Pertanyaannya sekarang adalah: kesuksesan itu hasil atau perjalanan? Apakah dia / hal itu? Bagaimana tolak ukur dari kesuksesan itu sendiri? Inilah yang menyebabkan manusia sekarang berubah dan melenceng dari tujuan awalnya. Banyak doktrin dan pemikiran yang salah, dan kemudian ditirukan oleh orang lain. Persepsi kita selama ini adalah kesuksesan itu soal orang lain, bagaimana kita memuaskan hati dan pikiran orang lain dengan cara membangun pencitraan diri kita sebaik mungkin.
Kesuksesan yang sebenarnya bukan soal prestise atau kebanggaan. Bukan pula masalah status, ekonomi, relasi ataupun sejenisnya yang sering kita pikirkan. Sesungguhnya, kesuksesan adalah sebuah proses. Bagaimana kita bisa merasa puas (dalam hal yang baik) dengan apa yang kita capai, itupun sudah berupa kesuksesan walaupun bagi orang lain bukan merupakan sesuatu yang hebat. Ini bukan masalah menjadi "manusia yang sempurna", tapi bagaimana kita "berproses menjadi yang sempurna" dan kemudian barulah membuat orang lain bahagia, walaupun kenyataannya kesempurnaan tidak akan pernah kita raih. Saya pernah terjebak oleh stigma yang salah tentang kesuksesan selama belasan tahun, dan menyebabkan saya menjadi manusia yang lupa bersyukur, terlalu ambisius, dan iri terhadap orang lain. Tetapi ketika saya membaca sebuah kisah dari Michael Port dalam bukunya Book Yourself Solid dibawah ini, saya menyadari bahwa kesuksesan adalah bagaimana kita menjalani proses tersebut dengan sebaik-baiknya menurut pribadi kita, dan bukan ditentukan oleh orang lain!
Ada seorang kakek, seorang anak, dan seekor keledai yang hendak pergi ke kota. Anak itu menunggangi keledai dan si kakek berjalan di sampingnya. Ketika berjalan bersama, mereka melewati beberapa orang yang berkata: Sungguh memalukan ada seorang kakek berjalan sementara si anak mengendarai keledai. Kakek dan anak itu berpikir mungkin para pengkritik itu benar, sehingga mereka mengubah posisi.
Kemudian, mereka melewati beberapa orang yang mengatakan, "Memalukan! Masak kakek itu menyuruh seorang anak kecil berjalan." Mereka berdua lalu memutuskan untuk sama-sama berjalan kaki.
Segera setelah itu, mereka melewati beberapa orang lagi yang berpikir bahwa sang kakek dan si anak kecil ini sangat bodoh karena berjalan kaki, sementara mereka memiliki seekor keledai yang layak untuk dinaiki. Jadi, mereka berdua menaiki keledai.
Sekarang, mereka melewati beberapa orang yang memarahi mereka dengan mengatakan betapa teganya mereka membebani keledai kurus itu. Si anak laki-laki dan kakek mengatakan orang-orang itu mungkin benar, sehingga mereka memutuskan untuk menggendong keledai malang itu. Ketika mereka melintasi jembatan, pegangan mereka pada hewan tersebut terlepas. Akhirnya, keledai itu pun jatuh ke sungai dan tenggelam.
Moral dari cerita ini? Jika kalian mencoba menyenangkan setiap orang, itu berarti kalian hanya mencari penyakit.

Komentar
Posting Komentar