Langsung ke konten utama

Kesuksesan

Kali ini saya akan menulis suatu hal yang berbeda dari hal sebelumnya. Lebih santai, dan bertema umum. Saya akan membahas dan meluruskan persepsi kita mengenai kesuksesan. Sebelum membahas kesuksesan itu sendiri, lebih baik kita bertanya pada diri kita sendiri: apa itu kesuksesan?

Untuk seorang anak kecil, mungkin kesuksesan dapat mereka artikan seperti berhasil berjalan (untuk bayi menjelang batita mungkin), berhasil mendapat apa yang mereka inginkan dari orangtua, menjadi juara satu dalam lomba menyanyi dan sebagainya. Untuk seorang pelajar, kesuksesan bisa berarti mendapat nilai A atau sempurna secara terus menerus, mendapat predikat siswa terbaik dan memiliki banyak teman. Orangtua menganggap kesuksesan adalah ketika mereka memiliki harta dimana-mana (yang tidak terhitung lagi), punya rumah dan mobil mewah, pekerjaan terpandang, status terhormat, anak yang pintar dan lainnya. Masih banyak lagi definisi kesuksesan dalam masyarakat luas, dan kita semua pasti tahu kesuksesan seperti apa yang pada umumnya diinginkan banyak orang.

Saya sempat berpikir suatu malam tentang hal ini. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang pernah merasa puas, bukan begitu? Karena inilah sifat dasar manusia. Orang-orang semakin serakah, mengambil harta orang lain, menjatuhkan satu sama lain, tidak peduli terhadap penderitaan dan kekurangan orang lain. Konsumerisme dan materialisme menjamur, Tuhan mulai dilupakan, emosi cepat timbul, perasaan membeku. Banyak dari kita yang pasti sudah merasakan hal ini. Apa yang menyebabkan semua ini? Jawabannya hanya satu: ambisi untuk meraih kesuksesan.

Pertanyaannya sekarang adalah: kesuksesan itu hasil atau perjalanan? Apakah dia / hal itu? Bagaimana tolak ukur dari kesuksesan itu sendiri? Inilah yang menyebabkan manusia sekarang berubah dan melenceng dari tujuan awalnya. Banyak doktrin dan pemikiran yang salah, dan kemudian ditirukan oleh orang lain. Persepsi kita selama ini adalah kesuksesan itu soal orang lain, bagaimana kita memuaskan hati dan pikiran orang lain dengan cara membangun pencitraan diri kita sebaik mungkin.

Kesuksesan yang sebenarnya bukan soal prestise atau kebanggaan. Bukan pula masalah status, ekonomi, relasi ataupun sejenisnya yang sering kita pikirkan. Sesungguhnya, kesuksesan adalah sebuah proses. Bagaimana kita bisa merasa puas (dalam hal yang baik) dengan apa yang kita capai, itupun sudah berupa kesuksesan walaupun bagi orang lain bukan merupakan sesuatu yang hebat. Ini bukan masalah menjadi "manusia yang sempurna", tapi bagaimana kita "berproses menjadi yang sempurna" dan kemudian barulah membuat orang lain bahagia, walaupun kenyataannya kesempurnaan tidak akan pernah kita raih. Saya pernah terjebak oleh stigma yang salah tentang kesuksesan selama belasan tahun, dan menyebabkan saya menjadi manusia yang lupa bersyukur, terlalu ambisius, dan iri terhadap orang lain. Tetapi ketika saya membaca sebuah kisah dari Michael Port dalam bukunya Book Yourself Solid dibawah ini, saya menyadari bahwa kesuksesan adalah bagaimana kita menjalani proses tersebut dengan sebaik-baiknya menurut pribadi kita, dan bukan ditentukan oleh orang lain!

Ada seorang kakek, seorang anak, dan seekor keledai yang hendak pergi ke kota. Anak itu menunggangi keledai dan si kakek berjalan di sampingnya. Ketika berjalan bersama, mereka melewati beberapa orang yang berkata: Sungguh memalukan ada seorang kakek berjalan sementara si anak mengendarai keledai. Kakek dan anak itu berpikir mungkin para pengkritik itu benar, sehingga mereka mengubah posisi.

Kemudian, mereka melewati beberapa orang yang mengatakan, "Memalukan! Masak kakek itu menyuruh seorang anak kecil berjalan." Mereka berdua lalu memutuskan untuk sama-sama berjalan kaki.

Segera setelah itu, mereka melewati beberapa orang lagi yang berpikir bahwa sang kakek dan si anak kecil ini sangat bodoh karena berjalan kaki, sementara mereka memiliki seekor keledai yang layak untuk dinaiki. Jadi, mereka berdua menaiki keledai.

Sekarang, mereka melewati beberapa orang yang memarahi mereka dengan mengatakan betapa teganya mereka membebani keledai kurus itu. Si anak laki-laki dan kakek mengatakan orang-orang itu mungkin benar, sehingga mereka memutuskan untuk menggendong keledai malang itu. Ketika mereka melintasi jembatan, pegangan mereka pada hewan tersebut terlepas. Akhirnya, keledai itu pun jatuh ke sungai dan tenggelam.

Moral dari cerita ini? Jika kalian mencoba menyenangkan setiap orang, itu berarti kalian hanya mencari penyakit. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terimakasih Aloysius, Terimakasih Angkatan 2016

Untuk Kita Semua, Angkatan 2016 VIDEO ANGKATAN 2016: MPLS DAN MPS MPLS 2013-2014 MPS 2016              Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih. Hanya itu yang bisa saya berikan untuk sekolah Aloysius, terutama para guru dan teman-teman semuanya. Karena saya sudah menjadi bagian dari sekolah ini... selama 14 tahun. Bukan waktu yang singkat memang, ada banyak hal-hal dan kenangan baik maupun buruk yang saya dapatkan selama bersekolah disini. Tetapi jika diambil maknanya, semua ini semata-mata merupakan proses pembentukan saya, dari seseorang yang bukan siapa – siapa dan tidak tahu apapun menjadi seseorang yang lebih baik. Saya ingin berterimakasih pertama – tama untuk guru – guru ( TK sampai SMA, mungkin terlalu banyak jika harus disebutkan ), yang telah memberikan banyak hal dan pelajaran baik pendidikan akademis ataupun moral yang memang, telah mengubah karakter saya ataupun teman – teman semua. Terkadang, jasa para guru yang luar bias...

Bersyukur Dibalik Penderitaan

Matthew Henry , seorang hamba Tuhan yang taat, selalu bersyukur setiap saat. Suatu hari, ia sedang dalam perjalanan pulang dari rumah salah seorang temannya, setelah mengikuti persekutuan doa. Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba seorang pria merampok barang-barangnya. Dompet dan beberapa barang berharga lainnya diambil. Tetapi saat ditanya istrinya, dia hanya menjawab "Pertama, saya bersyukur karena saya belum pernah dirampok sebelumnya. Kedua, mereka mengambil dompet saya, tetapi bukan nyawa saya . Ketiga, meskipun mereka mengambil semua yang saya miliki, itu tidak banyak . Keempat, karena saya yang dirampok, bukan saya yang merampok ". Kita seringkali MENGELUH atas apa yang kita alami. Rasul Paulus berkata   "dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan namun tidak binasa." Mulailah BERSYUKUR atas segala yang kita miliki!