Mazmur 77:12-21; 103:2
Terdapat dua penyakit lupa pada manusia, yaitu amnesia (gangguan memori) dan demensia (disertai gangguan kognitif, mengurangi kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Demensia sendiri dibagi menjadi dua yaitu alzheimer dan demensia vaskuler. Itu hanyalah beberapa contoh penjelasan singkat mengenai penyakit lupa yang menimpa manusia.
Sebenarnya lupa tidak hanya menyerang orang lanjut usia dan berbentuk penyakit, tapi bisa terjadi pada orang biasa seperti: lupa main game (terus-menerus dan lupa waktu), lupa utang, lupa istri, lupa suami, lupa anak, dan lainnya. Lupa adalah penyakit serius, tetapi ada juga yang memiliki dampak positif seperti: lupa disakiti, dan lupa akan kesalahan orang lain; walaupun lebih banyak yang memiliki dampak negatifnya.
Ada satu penyakit lupa yang berbahaya dan harus kita hindari, yaitu lupa kepada Tuhan. Lupa akan kasih setiaNya, kebaikanNya, penyertaanNya. Bukan saja berbahaya, tapi penyakit ini bisa berpengaruh pada iman kerohanian kita. Kita harus mengingat Tuhan untuk segala karya, kasih, penyertaanNya kepada kita yang tiada akhir. Karena manusia cenderung lupa akan Tuhan jika kita sedang berada di puncak kebahagiaan kita.
Didalam ayat kutipan, diceritakan ada seorang bernama Asaf. Asaf adalah seorang yang sangat berguna di masa kerajaan Daud sebagai ahli musik. Tapi Asaf bergumul, dia menjerit, dia berdoa kepada Tuhan atas segala keresahannya; tapi Tuhan seolah tidak mendengar dan bertindak. Pada ayat 9, keresahan Asaf digambarkan dalam ungkapannya kepada Tuhan: sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setiaNya? Sudah lupakan Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmatNya karena murkaNya. Maka kataku: "Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatingggi berubah."
Dalam Mazmur ini, setelah kekecewaan dan kejengkelan Asaf, sekalipun setiap hari pekerjaannya memuji dan memimpin ratusan bahkan ribuan orang memuji Tuhan lewat musiknya, tapi di ayat 14 Asaf berubah. Ia bersyukur kepada Tuhan. Tapi di sisi lain sebenarnya ia mengalami kepaitan. Apakah yang membuat hal itu bisa terjadi (kepaitan terhadap Tuhan)?
Sudut Pandang. Ia mengganti perspektif dari persoalan yang dialaminya, ia mencoba untuk mengingat perbuatan-perbuatan Allah yang telah terjadi. Imannya dibangkitkan, dan ia dapat mengungkapkan kekagumannya kepada Tuhan. Ayat 12-13 bercerita bahwa: Asaf ingin mengingat kebaikan Allah, merenungkan perbuatan Allah. Perspektif pemazmur berubah, terhadap apa yang Allah telah kerjakan didalam hidupnya dan lebih mengingat kebaikan yang telah dilakukan Tuhan.
Ada 3 hal yang dilakukan pemazmur untuk melawan lupa terhadap Tuhan:
- Mengingat-ingat akan kebaikan dan keajaiban karyaNya yang telah terjadi, dan terkadang kita mengabaikan hal tersebut setelah sekian lama. Indahnya pengalaman bersama Tuhan harus kita rasakan kembali.
- Menyebut secara terus menerus apa yang kita ingat (dalam hal ini kebaikan Tuhan yang telah kita ingat), agar lebih menyerap dan kita ingat terus.
- Merenungkan perbuatan ajaib yang Tuhan telah lakukan; bahwa karyaNya telah menyatu dalam kehidupan kita, dan meyakini perbuatan Tuhan akan mengilhami dan menyemangati perjalanan hidup kita kedepan.
Komentar
Posting Komentar