Sebuah keluarga tinggal di tepi kota, jauh dari pusat keramaian. Keluarga ini memiliki seorang anak lelaki, dan kedua orangtuanya mempunyai penghasilan yang kecil.
Suatu hari, sang anak meminta sepotong kue kepada kedua orangtuanya,"Aku ingin sepotong kue. Aku mohon Ayah, Ibu. Hanya sekali dalam seumur hidupku." Tetapi kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepala mereka, dan sang anak pergi berlalu.
Hari berikutnya, anak kecil ini kembali kepada orangtuanya dan meminta hal yang sama. "Apakah kali ini aku boleh mendapatkannya? Hanya sepotong kecil saja.". Dan kedua orangtuanya merespon dengan cara yang sama. Menggelengkan kepala mereka..
Anak ini sedih dan berpikir bahwa kedua orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi. Sampai beberapa hari kemudian, ia memutuskan untuk bertanya,"Ayah, Ibu. Apakah kalian berdua menyayangiku? Kalau begitu, mengapa aku tidak boleh mendapatkan kue tersebut?". Kedua orangtuanya terdiam dan tidak menjawab apa-apa. Anak itu menangis, dan pergi meninggalkan rumah.
Ia berlari ditengah hujan, menerobos malam yang dingin. Ditengah jalan, ia bertemu dengan seorang penjual makanan keliling. Karena melihat anak tersebut kelaparan dan terduduk dibawah pohon, ia menghampiri anak tersebut dan memberinya sedikit dari makanan yang ia miliki.
"Pak, engkau sungguh baik terhadapku. Orangtuaku saja, tidak menyayangiku seperti yang engkau lakukan. Mereka tidak dapat memberikanku kebahagiaan.". Penjual makanan itu hanya tersenyum dan berkata,"Engkau menyebutku baik, karena sedikit makanan ini, dan menyebut orangtuamu jahat, karena tidak memberikanmu kebahagiaan? Engkau mengucapkan terimakasih kepadaku. Apakah kau pernah mengucapkan terimakasih kepada orangtuamu atas segala makanan yang mereka berikan kepadamu? Mereka merawat dan membesarkanmu, mengijinkanmu tinggal di rumah mereka. Mereka tidak pernah lelah merawatmu walau mungkin terkadang engkau melawan mereka. Pernahkah kau bersyukur dan berterimakasih pada mereka?".
Anak ini termenung dan menangis. Ia berlari pulang kerumahnya. Sesampainya didepan pintu rumahnya, ibunya sedang menunggu kedatangannya. "Masuklah, Nak".
Ia terkejut karena melihat sebuah kue ulang tahun besar di meja makan. "Maafkan Ayah dan Ibu nak, karena tidak membelikanmu sepotong kue. Kami takut uang yang kami miliki tidak cukup untuk membelikanmu ini". Anak ini menangis, memeluk kedua orangtuanya dan meminta maaf kepada mereka.
Makna..
Sadarkah kita bahwa sebenarnya kita sering melakukan hal yang sama seperti anak itu? Kita sering berdoa, menuntut sesuatu kepada Tuhan, dan Ia seringkali "tidak" mengabulkannya. Tapi sebenarnya, Tuhan punya rencana yang lebih indah dari permohonan yang kita panjatkan. Seringkali kita kecewa dan meninggalkan Tuhan karena permintaan kita tidak terkabul. Dan Roh Kudus bekerja pada kita, layaknya seperti si penjual makanan. Ia menuntun dan membimbing kita agar kembali dalam pangkuan Tuhan.
Suatu hari, sang anak meminta sepotong kue kepada kedua orangtuanya,"Aku ingin sepotong kue. Aku mohon Ayah, Ibu. Hanya sekali dalam seumur hidupku." Tetapi kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepala mereka, dan sang anak pergi berlalu.
Hari berikutnya, anak kecil ini kembali kepada orangtuanya dan meminta hal yang sama. "Apakah kali ini aku boleh mendapatkannya? Hanya sepotong kecil saja.". Dan kedua orangtuanya merespon dengan cara yang sama. Menggelengkan kepala mereka..
Anak ini sedih dan berpikir bahwa kedua orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi. Sampai beberapa hari kemudian, ia memutuskan untuk bertanya,"Ayah, Ibu. Apakah kalian berdua menyayangiku? Kalau begitu, mengapa aku tidak boleh mendapatkan kue tersebut?". Kedua orangtuanya terdiam dan tidak menjawab apa-apa. Anak itu menangis, dan pergi meninggalkan rumah.
Ia berlari ditengah hujan, menerobos malam yang dingin. Ditengah jalan, ia bertemu dengan seorang penjual makanan keliling. Karena melihat anak tersebut kelaparan dan terduduk dibawah pohon, ia menghampiri anak tersebut dan memberinya sedikit dari makanan yang ia miliki.
"Pak, engkau sungguh baik terhadapku. Orangtuaku saja, tidak menyayangiku seperti yang engkau lakukan. Mereka tidak dapat memberikanku kebahagiaan.". Penjual makanan itu hanya tersenyum dan berkata,"Engkau menyebutku baik, karena sedikit makanan ini, dan menyebut orangtuamu jahat, karena tidak memberikanmu kebahagiaan? Engkau mengucapkan terimakasih kepadaku. Apakah kau pernah mengucapkan terimakasih kepada orangtuamu atas segala makanan yang mereka berikan kepadamu? Mereka merawat dan membesarkanmu, mengijinkanmu tinggal di rumah mereka. Mereka tidak pernah lelah merawatmu walau mungkin terkadang engkau melawan mereka. Pernahkah kau bersyukur dan berterimakasih pada mereka?".
Anak ini termenung dan menangis. Ia berlari pulang kerumahnya. Sesampainya didepan pintu rumahnya, ibunya sedang menunggu kedatangannya. "Masuklah, Nak".
Ia terkejut karena melihat sebuah kue ulang tahun besar di meja makan. "Maafkan Ayah dan Ibu nak, karena tidak membelikanmu sepotong kue. Kami takut uang yang kami miliki tidak cukup untuk membelikanmu ini". Anak ini menangis, memeluk kedua orangtuanya dan meminta maaf kepada mereka.Makna..
Sadarkah kita bahwa sebenarnya kita sering melakukan hal yang sama seperti anak itu? Kita sering berdoa, menuntut sesuatu kepada Tuhan, dan Ia seringkali "tidak" mengabulkannya. Tapi sebenarnya, Tuhan punya rencana yang lebih indah dari permohonan yang kita panjatkan. Seringkali kita kecewa dan meninggalkan Tuhan karena permintaan kita tidak terkabul. Dan Roh Kudus bekerja pada kita, layaknya seperti si penjual makanan. Ia menuntun dan membimbing kita agar kembali dalam pangkuan Tuhan.
Percayalah dan syukuri apapun di dunia ini, karena Tuhan pasti punya rencana yang terbaik untuk kita!
Komentar
Posting Komentar