Satu hari, saya bertemu sebuah keluarga yang sangat akrab. Kita bilang, mereka bahagia dan sukses. Orangtuanya kerja di perusahaan terkenal di kota. Anak-anaknya sekolah di sekolah favorit. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka tampak akur, tidak ada perselisihan dan lainnya. Setiap minggu mereka ke gereja bersama. pergi untuk merayakan hari Tuhan dan melayani-Nya. Saya pikir, mereka adalah sebuah keluarga yang sempurna.
Sampai pada suatu hari, saya diceritakan orang-orang kalau ternyata orangtua mereka jarang pulang cepat. Mereka selalu kembali ke rumah setelah larut malam, ketika anak-anaknya tertidur. Dan kembali pergi bekerja pagi buta, sebelum anak-anaknya bangun. Rutinitas itu terus terulang bertahun-tahun. Sampai satu hari, anak laki-lakinya menginjak umur 15 tahun. Ia berulang tahun dan meminta beberapa hal pada orangtuanya.
Orangtuanya dengan senang hati langsung memberikan segala yang diminta anaknya itu. Anaknya tampak senang. Menurutnya, terkadang kesepian seseharinya itu bisa terhapus oleh apa yang diberikan oleh orangtuanya itu. Ia mendapat motor idamannya, yang mungkin tidak banyak teman yang memakainya. Bangga, jelas.
Bulan Maret 2011, anak laki-laki ini mengalami kecelakaan ketika sedang mengendarai motornya itu. Ia tertabrak dan meninggal di tempat. Orangtuanya sangat terpukul dengan keadaaan mereka. Mereka menyesal akan kesibukan, segala rutinitas yang menyebabkan waktu mereka untuk anaknya berkurang. Harta memang tidak bisa membawa kebahagiaan. Apa yang telah diambil Tuhan, kita tidak bisa memintanya kembali. Orangtuanya terus meratapi kepergian anaknya ini selama satu bulan. Mereka tidak melakukan apapun. Hanya berdoa, meminta jawaban dari Tuhan.
Akhirnya mereka berdua bertekad untuk merawat anak kedua mereka yang perempuan dan mengurangi kesibukan mereka. Anak ini merasa terhibur, orangtuanya bisa meluangkan waktu untuknya. Tapi ternyata itu tidak bertahan lama. Dia terjatuh di sekolah karena didorong temannya. Awalnya memar, biru, sama seperti kita terjatuh pada umumnya. Tapi lama kelamaan rasa nyeri itu bertambah dan semakin menyakitkan. Setelah diperiksakan ke beberapa rumah sakit, ia positif: Kanker Tulang. Untuk anak usia 9 tahun ini sangat sulit dijalani. Bahkan ia pun tidak sadar bahwa kanker dapat membunuhnya. Ia pikir kalau diobati, maka sakitnya akan sembuh.
Selama 9 bulan ia dikemoterapi, hasilnya cukup positif. Tetapi Tuhan berkata lain. Ia harus pergi karena kondisinya drop sewaktu menjalani kemo terakhir. Anak ini pun meninggal dengan penuh penderitaan. Pertanyaannya adalah: Dimana Tuhan untuk kedua orangtua ini? Orangtua kedua anak ini terpukul. Anaknya diambil dalam waktu satu tahun saja, keduanya. Lalu mengapa mereka harus mendapat semuanya ini? Mereka rajin ke gereja, mereka menyembah Tuhan, bernyanyi untuk kemuliaan-Nya. Tapi lihat apa yang Tuhan lakukan. Mereka tidak dapat menemui kebaikan Tuhan.
Sampai di malam terakhir anak tsb. hendak dikubur, ada seorang teman dari ayah kedua anak ini berkata "Tuhan memberimu teguran atas apa yang kau lakukan. Ia tidak memberimu pencobaan, tapi melalui kisahmu ini akan banyak orang diselamatkan. Orangtua yang penuh dengan kesibukannya akan mengerti betapa harta tidak berharga dibandingkan kebahagiaan keluarga sendiri. Lagipula, Tuhan tidak pernah memberikan pencobaan melewati kekuatanmu"

Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Ia hanya mengasihimu dan membuat dirimu menjadi lebih baik lagi. Apa kita harus ditegur terlebih dahulu seperti cerita di atas, baru kita bisa berubah? Dekatilah Tuhan Yesus, renungkanlah sabda-Nya. Dan kita semua akan sadar bahwa kebaikan-Nya melebihi pemikiran kita. Rencana-Nya tidak terduga. Dan terlebih, Ia tidak pernah berbuat jahat kepada kita. Jangan pernah kembali kepada Tuhan ketika kita sudah ditegur. Bersyukurlah apapun yang diberikan oleh-Nya mulai sekarang juga!
Sampai pada suatu hari, saya diceritakan orang-orang kalau ternyata orangtua mereka jarang pulang cepat. Mereka selalu kembali ke rumah setelah larut malam, ketika anak-anaknya tertidur. Dan kembali pergi bekerja pagi buta, sebelum anak-anaknya bangun. Rutinitas itu terus terulang bertahun-tahun. Sampai satu hari, anak laki-lakinya menginjak umur 15 tahun. Ia berulang tahun dan meminta beberapa hal pada orangtuanya.
Orangtuanya dengan senang hati langsung memberikan segala yang diminta anaknya itu. Anaknya tampak senang. Menurutnya, terkadang kesepian seseharinya itu bisa terhapus oleh apa yang diberikan oleh orangtuanya itu. Ia mendapat motor idamannya, yang mungkin tidak banyak teman yang memakainya. Bangga, jelas.
Bulan Maret 2011, anak laki-laki ini mengalami kecelakaan ketika sedang mengendarai motornya itu. Ia tertabrak dan meninggal di tempat. Orangtuanya sangat terpukul dengan keadaaan mereka. Mereka menyesal akan kesibukan, segala rutinitas yang menyebabkan waktu mereka untuk anaknya berkurang. Harta memang tidak bisa membawa kebahagiaan. Apa yang telah diambil Tuhan, kita tidak bisa memintanya kembali. Orangtuanya terus meratapi kepergian anaknya ini selama satu bulan. Mereka tidak melakukan apapun. Hanya berdoa, meminta jawaban dari Tuhan.
Akhirnya mereka berdua bertekad untuk merawat anak kedua mereka yang perempuan dan mengurangi kesibukan mereka. Anak ini merasa terhibur, orangtuanya bisa meluangkan waktu untuknya. Tapi ternyata itu tidak bertahan lama. Dia terjatuh di sekolah karena didorong temannya. Awalnya memar, biru, sama seperti kita terjatuh pada umumnya. Tapi lama kelamaan rasa nyeri itu bertambah dan semakin menyakitkan. Setelah diperiksakan ke beberapa rumah sakit, ia positif: Kanker Tulang. Untuk anak usia 9 tahun ini sangat sulit dijalani. Bahkan ia pun tidak sadar bahwa kanker dapat membunuhnya. Ia pikir kalau diobati, maka sakitnya akan sembuh.
Selama 9 bulan ia dikemoterapi, hasilnya cukup positif. Tetapi Tuhan berkata lain. Ia harus pergi karena kondisinya drop sewaktu menjalani kemo terakhir. Anak ini pun meninggal dengan penuh penderitaan. Pertanyaannya adalah: Dimana Tuhan untuk kedua orangtua ini? Orangtua kedua anak ini terpukul. Anaknya diambil dalam waktu satu tahun saja, keduanya. Lalu mengapa mereka harus mendapat semuanya ini? Mereka rajin ke gereja, mereka menyembah Tuhan, bernyanyi untuk kemuliaan-Nya. Tapi lihat apa yang Tuhan lakukan. Mereka tidak dapat menemui kebaikan Tuhan.
Sampai di malam terakhir anak tsb. hendak dikubur, ada seorang teman dari ayah kedua anak ini berkata "Tuhan memberimu teguran atas apa yang kau lakukan. Ia tidak memberimu pencobaan, tapi melalui kisahmu ini akan banyak orang diselamatkan. Orangtua yang penuh dengan kesibukannya akan mengerti betapa harta tidak berharga dibandingkan kebahagiaan keluarga sendiri. Lagipula, Tuhan tidak pernah memberikan pencobaan melewati kekuatanmu"

Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Ia hanya mengasihimu dan membuat dirimu menjadi lebih baik lagi. Apa kita harus ditegur terlebih dahulu seperti cerita di atas, baru kita bisa berubah? Dekatilah Tuhan Yesus, renungkanlah sabda-Nya. Dan kita semua akan sadar bahwa kebaikan-Nya melebihi pemikiran kita. Rencana-Nya tidak terduga. Dan terlebih, Ia tidak pernah berbuat jahat kepada kita. Jangan pernah kembali kepada Tuhan ketika kita sudah ditegur. Bersyukurlah apapun yang diberikan oleh-Nya mulai sekarang juga!
Ayub 1:21 "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
"By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus." - Mother Theresa
Komentar
Posting Komentar