Langsung ke konten utama

Apakah Sakit dan Kematian Itu Salah?

Waktu denger kata-kata di atas, pasti banyak sekali bayangan yang ada di pikiran kita. Seorang tua yang terbaring di ranjang, atau mungkin seorang muda yang tubuhnya tidak utuh. Mungkin juga, yang terlintas pertama itu rumah sakit, mobil ambulans, dan teman-temannya.. Kalau kata yang kedua, hal yang diingat itu peti, kemudian seseorang berbaring didalamnya dengan pakaian yang rapi dan bersih seolah sedang menatap: surga atau neraka, ya?

Banyak orang, bahkan saya bilang hampir semua orang, pasti mengeluh ketika sakit. Semakin parah sakit itu, ya keluhannya semakin banyak dan sering. Dalam kondisi itu pasti yang dicari pertama adalah: obat. Bagaikan superhero yang siap sedia membasmi segalanya dalam sekejap. Kalau belum ampuh juga, dokter adalah jalan berikutnya (atau mungkin kita langsung mencari dokter ketika tubuh kita hendak mati rasanya). Mungkin hal ini bukan sesuatu yang perlu dibahas, atau diberitahu lagi. Ya, anak kecil pun pasti tahu, kan? Coba kita cari fokus yang lain. Kenapa sih rasa sakit harus disesali, atau kematian harus ditakuti?

Kebanyakan dari kita mengganggap sakit itu suatu pukulan dari apa yang kita salah lakukan atau makan, dan ketika Anda sakit maka ada yang tidak beres di tubuh Anda. Tapi Ajahn Brahm, dalam bukunya Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya berkata, bahwa ketika sakit muncul, maka Anda sedang berada dalam kondisi yang normal. Kenapa? Berarti kita adalah manusia! Kita punya daya tahan terbatas, bisa mengalami kerusakan, tidak seperti robot yang cenderung kuat. Harusnya, waktu kita berkunjung ke dokter, kita bilang "Dok, ada yang beres dengan saya". Ini namanya proses kehidupan, bukan percepatan jalan menuju ajal...

Penyakit datang menjadi guru kita. Coba saja waktu Anda sakit, berbaringlah, pejamkan mata sejenak dan renungkan kondisi Anda. Tentu kita yang belum bisa bersyukur atas penyakit itu, pasti terus terganggu dengan rasa sakitnya. Tapi ketika kita bisa bersyukur, kita berpasrah dan melepaskan rasa sakit itu, rasa sakitnya akan hilang. Rasa sakit mengajarkan banyak hal pada kita. Lebih bersyukur untuk makanan setiap hari, atas waktu ketika kita bisa bermain dan beraktivitas dengan baik. Melihat dunia lebih jauh lagi, merasakan keindahannya dan masih banyak lagi tentunya.

Hal lain yang unik adalah, rasa senang bisa menghilangkan rasa sakit itu. Saya melihat beberapa contohnya secara langsung. Teman saya, suatu hari sedang sakit kepala dan flu yang lumayan parah. Ia terbaring, dan seperti lansia yang sedang meratapi akhir hayatnya. Lalu kemudian hari berikutnya, kami bermain bersama dengan teman-teman yang lain. Anda tahu apa yang terjadi? Ia seolah orang yang sehat dan tidak sakit samasekali. Kadang kita tidak sadar ketika kita sedang senang, dengan rasa sakit, dengan kondisi sekeliling kita. Maka jadilah orang yang bahagia, senyum itu murah dan bermanfaat kok! Sama seperti saat kita berpasrah pada rasa sakit itu sembari memejamkan mata, pasti sakitnya bisa berkurang.

Terakhir, soal kematian. Umumnya kita takut dengan kematian. Coba saja Anda tanya seseorang dengan umur 20-30 tentang kematian. Seringkali jawabannya adalah "Itu urusan nanti, waktu umur saya 60-an". Tapi coba Anda tanya lagi waktu ia umur 60. "Oh.. sungguh masih banyak yang ingin kukerjakan. 80 mungkin ideal". Dan ketika 80 tahun, "Saya belum siap... 10 tahun lagi mungkin cukup". Tekankan ini pada diri Anda: Mati muda itu bisa saja! Saya bahkan sudah melihat anak-anak meninggal di usia 5-15 tahun, 20 tahun, dan banyak kasus lainnya. Jadi kematian itu bukan urusan orang yang tua, tapi urusan manusia di semua umur.

Ketakutan akan kematian dikarenakan kita belum sungguh benar menjalani kehidupan ini. Banyak kesalahan yang kita buat, kita belum hidup sesuai jalan yang seharusnya. Jadi mulai sekarang ubahlah pola pikir dan tindakan kita semua. Kita harus jadi manusia yang siap mati. Ingat satu hal: orang yang siap mati itu, ya orang yang sudah menghidupi kehidupan ini. Yakinkan diri Anda untuk bertindak benar mulai sekarang, maka saat Anda pulang kampung, Anda pulang dengan perasaan bahagia.

Komentar

  1. nice.. it's about mindset I guess :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaaa.. ini yang belum didapet orang banyak. Semoga bs merubah mindset kita :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terimakasih Aloysius, Terimakasih Angkatan 2016

Untuk Kita Semua, Angkatan 2016 VIDEO ANGKATAN 2016: MPLS DAN MPS MPLS 2013-2014 MPS 2016              Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih. Hanya itu yang bisa saya berikan untuk sekolah Aloysius, terutama para guru dan teman-teman semuanya. Karena saya sudah menjadi bagian dari sekolah ini... selama 14 tahun. Bukan waktu yang singkat memang, ada banyak hal-hal dan kenangan baik maupun buruk yang saya dapatkan selama bersekolah disini. Tetapi jika diambil maknanya, semua ini semata-mata merupakan proses pembentukan saya, dari seseorang yang bukan siapa – siapa dan tidak tahu apapun menjadi seseorang yang lebih baik. Saya ingin berterimakasih pertama – tama untuk guru – guru ( TK sampai SMA, mungkin terlalu banyak jika harus disebutkan ), yang telah memberikan banyak hal dan pelajaran baik pendidikan akademis ataupun moral yang memang, telah mengubah karakter saya ataupun teman – teman semua. Terkadang, jasa para guru yang luar bias...

Melawan Lupa

Mazmur 77:12-21; 103:2 Terdapat dua penyakit lupa pada manusia,  yaitu amnesia  (gangguan memori) dan demensia (disertai gangguan kognitif, mengurangi kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Demensia sendiri dibagi menjadi dua yaitu alzheimer dan demensia vaskuler. Itu hanyalah beberapa contoh penjelasan singkat mengenai penyakit lupa yang menimpa manusia. Sebenarnya lupa tidak hanya menyerang orang lanjut usia dan berbentuk penyakit, tapi bisa terjadi pada orang biasa seperti: lupa main game (terus-menerus dan lupa waktu), lupa utang, lupa istri, lupa suami, lupa anak, dan lainnya. Lupa adalah penyakit serius , tetapi ada juga yang memiliki dampak positif seperti: lupa disakiti, dan lupa akan kesalahan orang lain; walaupun lebih banyak yang memiliki dampak negatifnya. Ada satu penyakit lupa yang berbahaya dan harus kita hindari, yaitu lupa kepada Tuhan. Lupa akan kasih setiaNya, kebaikanNya, penyertaanNya. Bukan saja berbahaya, tapi penyakit ini bisa berpengaruh pa...

Kesuksesan

Kali ini saya akan menulis suatu hal yang berbeda dari hal sebelumnya. Lebih santai, dan bertema umum. Saya akan membahas dan meluruskan persepsi kita mengenai kesuksesan. Sebelum membahas kesuksesan itu sendiri, lebih baik kita bertanya pada diri kita sendiri: apa itu kesuksesan? Untuk seorang anak kecil, mungkin kesuksesan dapat mereka artikan seperti berhasil berjalan (untuk bayi menjelang batita mungkin), berhasil mendapat apa yang mereka inginkan dari orangtua, menjadi juara satu dalam lomba menyanyi dan sebagainya. Untuk seorang pelajar, kesuksesan bisa berarti mendapat nilai A atau sempurna secara terus menerus, mendapat predikat siswa terbaik dan memiliki banyak teman. Orangtua menganggap kesuksesan adalah ketika mereka memiliki harta dimana-mana (yang tidak terhitung lagi), punya rumah dan mobil mewah, pekerjaan terpandang, status terhormat, anak yang pintar dan lainnya. Masih banyak lagi definisi kesuksesan dalam masyarakat luas, dan kita semua pasti tahu kesuksesan seperti ...