Satu hari saya ngobrol sama papa di rumah, bicara tentang banyak hal. Biasa, papa memang orang yang cukup banyak topik kalo lagi pengen duduk untuk bercerita. Dan biasanya, papa cerita itu arahnya satu sisi alias saya hanya pendengar yang baik.. haha. Mulai dari politik, keluarga, pendidikan, sepeda (mayoritas), makanan, kesehatan, dan lainnya. Banyak banget pengetahuan yang papa punya.. sampe waktu suatu sore kita berbincang cukup lama, sampailah papa di pertanyaan yang bikin saya hening dan termenung. "Kamu tuh ngapain hidup di dunia?".
Jelas bingung, iya. Saya sedikit tertegun entah kenapa. Mendadak saya dipaksa untuk berpikir, mengeluarkan apa yang kita punya. Lalu pelan-pelan dengan sedikit kepastian dan keberanian saya mulai jawab.. "Cari uang, dan hidup bahagia..". "Oh, jadi itu. Kalau begitu sekolah untuk uang ya?" "Iya pa.." "Lalu hidup juga untuk uang?" "Enggak juga sih pa.." Dalam hati saya mulai merasa terkecoh dengan jawaban saya sendiri. Setelah disitu, papa masuk dan tidak melanjutkan obrolan kita tadi. Singkat cerita, hari itu selesai sampai disana.
Jelas bingung, iya. Saya sedikit tertegun entah kenapa. Mendadak saya dipaksa untuk berpikir, mengeluarkan apa yang kita punya. Lalu pelan-pelan dengan sedikit kepastian dan keberanian saya mulai jawab.. "Cari uang, dan hidup bahagia..". "Oh, jadi itu. Kalau begitu sekolah untuk uang ya?" "Iya pa.." "Lalu hidup juga untuk uang?" "Enggak juga sih pa.." Dalam hati saya mulai merasa terkecoh dengan jawaban saya sendiri. Setelah disitu, papa masuk dan tidak melanjutkan obrolan kita tadi. Singkat cerita, hari itu selesai sampai disana.
Besoknya saya ikut papa rutin bersepeda berdua, ceritanya sih olahraga pagi sambil makan, tapi ujungnya malah makan sambil olahraga. Saya sampai pukul delapan pagi di Terminal Dago. Hari itu entah kenapa saya dan papa saya mendadak pengen istirahat di tepi jalan. Waktu kita baru parkir sepeda dan minum, saya lihat ada dua orang anak dengan karung dan botol bekas di tangannya..
"Anak itu kenapa kira-kira?" "Cari uang pa.." Kali itu papa saya cuman senyum dan ngajak saya lanjut bersepeda lagi. Hari itu sepanjang jalan papa gak banyak bicara, cuman diam dan sesekali cerita tentang tempat-tempat yang kita lewatin.
Sampai di rumah, papa saya ngajak saya duduk dan ngobrol, seperti biasa. Mendadak beliau bicara "Selama ini apa yang kamu pikirin itu salah. Kamu bukan cari uang, tapi kamu sekolah untuk berguna bagi orang lain. Sekarang gini deh. Setelah kamu punya uang nanti, akhirnya untuk apa sih? Usaha kan? Main kan? Hidup kan? Intinya adalah kamu berusaha mengasah kemampuan kamu untuk berguna bagi orang lain. Sama seperti anak yang jadi pemulung tadi siang, dia bukan untuk cari uang. Itu cuman tujuan sampingan. Tapi pasti dia ngelakuin itu untuk bantu ayah ibunya, bayar biaya sekolah dia dan adiknya mungkin, dan hal lainnya."
Saya tertegun dan langsung berpikir bahwa.. oh.. iya benar. Kita selama ini seringkali terpaku sama satu hal. Kita seringkali tidak mau keluar dari "zona nyaman" kitta. Sama seperti seseorang yang telah dipenjara puluhan tahun. Lama kelamaan ia akan enggan untuk keluar dari penjara. Permasalahannya adalah.. apakah kita mau keluar dari zona nyaman? Hidup bukannya hanya satu tujuan. Hidup bukan soal uang. Hidup bukan soal diri kita, tapi diri orang lain. Ketika kalian terpuruk karena melakukan kesalahan, dijauhi teman, tidak dianggap dalam keluarga, jangan pernah merasa terpuruk. Banyak orang diluar sana yang masih butuh bantuan dan uluran tangan, serta karya kita. Tujuan kita hidup adalah.. bagaimana kita dalam antrian kita kembali ke surga, kita bisa berguna dan memanfaatkan kesempatan hidup ini untuk memperbaiki kualitas hidup sekeliling kita. Itulah patokan seseorang sudah bisa dibilang "manusia".
"Karena itu, sebagai orang-orang plihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." - Kolose 3:12.


Komentar
Posting Komentar