Langsung ke konten utama

Postingan

Dimanakah Hidup Yang Sebenarnya?

Satu hari saya ngobrol sama papa di rumah, bicara tentang banyak hal. Biasa, papa memang orang yang cukup banyak topik kalo lagi pengen duduk untuk bercerita. Dan biasanya, papa cerita itu arahnya satu sisi alias saya hanya pendengar yang baik.. haha. Mulai dari politik, keluarga, pendidikan, sepeda (mayoritas), makanan, kesehatan, dan lainnya. Banyak banget pengetahuan yang papa punya.. sampe waktu suatu sore kita berbincang cukup lama, sampailah papa di pertanyaan yang bikin saya hening dan termenung. "Kamu tuh ngapain hidup di dunia?".  Jelas bingung, iya. Saya sedikit tertegun entah kenapa. Mendadak saya dipaksa untuk berpikir, mengeluarkan apa yang kita punya. Lalu pelan-pelan dengan sedikit kepastian dan keberanian saya mulai jawab.. "Cari uang, dan hidup bahagia..". "Oh, jadi itu. Kalau begitu sekolah untuk uang ya?" "Iya pa.." "Lalu hidup juga untuk uang?" "Enggak juga sih pa.." Dalam hati saya mulai merasa terkecoh...

Hidup Tidak Ada Habisnya, Asal...

Jujur, saya sebagai manusia tentu pernah merasa kesepian. Semua orang *mungkin* pernah ngerasain yang namanya kesepian, sendiri, ato masa-masa dimana kita bingung hidup kita ini buat apa sih? Apapun yang kita lakuin kaya ga ada artinya buat orang lain. Menurut kita baik, tapi mungkin orang lain ga sependapat. Ini masalah yang sebenarnya ga sulit, tapi terus kita ulangi karena banyak hal. Itu bisa karena kita lagi dalam tekanan, ato apapun itu yang buat perasaan kita ga enak, dan hal-hal baik yang kita lakuin mungkin bakal jadi buruk di pikiran kita. Kadang waktu kita kesepian inilah, kita mulai merenungi banyak hal dan terkadang memandang orang yang lebih dari kita. Saya pribadi udah sering dengar yang namanya: Kenapa sih ada si kaya dan si miskin? Ato si populer dan si ansos? Kenapa hidup saya mengecewakan? Well, kita ga akan pernah abis kalau ngomongin ini terus. Kalau kita jadi orang yang jarang bersyukur dan menuntut lebih terus menerus, itu bakal buat kita semakin tertekan dan...

Apakah Sakit dan Kematian Itu Salah?

Waktu denger kata-kata di atas, pasti banyak sekali bayangan yang ada di pikiran kita. Seorang tua yang terbaring di ranjang, atau mungkin seorang muda yang tubuhnya tidak utuh. Mungkin juga, yang terlintas pertama itu rumah sakit, mobil ambulans, dan teman-temannya.. Kalau kata yang kedua, hal yang diingat itu peti, kemudian seseorang berbaring didalamnya dengan pakaian yang rapi dan bersih seolah sedang menatap: surga atau neraka, ya? Banyak orang, bahkan saya bilang hampir semua orang, pasti mengeluh ketika sakit. Semakin parah sakit itu, ya keluhannya semakin banyak dan sering. Dalam kondisi itu pasti yang dicari pertama adalah: obat. Bagaikan superhero  yang siap sedia membasmi segalanya dalam sekejap. Kalau belum ampuh juga, dokter adalah jalan berikutnya (atau mungkin kita langsung mencari dokter ketika tubuh kita hendak mati rasanya). Mungkin hal ini bukan sesuatu yang perlu dibahas, atau diberitahu lagi. Ya, anak kecil pun pasti tahu, kan? Coba kita cari fokus yang lai...

Kesuksesan

Kali ini saya akan menulis suatu hal yang berbeda dari hal sebelumnya. Lebih santai, dan bertema umum. Saya akan membahas dan meluruskan persepsi kita mengenai kesuksesan. Sebelum membahas kesuksesan itu sendiri, lebih baik kita bertanya pada diri kita sendiri: apa itu kesuksesan? Untuk seorang anak kecil, mungkin kesuksesan dapat mereka artikan seperti berhasil berjalan (untuk bayi menjelang batita mungkin), berhasil mendapat apa yang mereka inginkan dari orangtua, menjadi juara satu dalam lomba menyanyi dan sebagainya. Untuk seorang pelajar, kesuksesan bisa berarti mendapat nilai A atau sempurna secara terus menerus, mendapat predikat siswa terbaik dan memiliki banyak teman. Orangtua menganggap kesuksesan adalah ketika mereka memiliki harta dimana-mana (yang tidak terhitung lagi), punya rumah dan mobil mewah, pekerjaan terpandang, status terhormat, anak yang pintar dan lainnya. Masih banyak lagi definisi kesuksesan dalam masyarakat luas, dan kita semua pasti tahu kesuksesan seperti ...

Apakah Tuhan selalu Baik?

Satu hari, saya bertemu sebuah keluarga yang sangat akrab. Kita bilang, mereka bahagia dan sukses. Orangtuanya kerja di perusahaan terkenal di kota. Anak-anaknya sekolah di sekolah favorit. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka tampak akur, tidak ada perselisihan dan lainnya. Setiap minggu mereka ke gereja bersama. pergi untuk merayakan hari Tuhan dan melayani-Nya. Saya pikir, mereka adalah sebuah keluarga yang sempurna. Sampai pada suatu hari, saya diceritakan orang-orang kalau ternyata orangtua mereka jarang pulang cepat. Mereka selalu kembali ke rumah setelah larut malam, ketika anak-anaknya tertidur. Dan kembali pergi bekerja pagi buta, sebelum anak-anaknya bangun. Rutinitas itu terus terulang bertahun-tahun. Sampai satu hari, anak laki-lakinya menginjak umur 15 tahun. Ia berulang tahun dan meminta beberapa hal pada orangtuanya. Orangtuanya dengan senang hati langsung memberikan segala yang diminta anaknya itu. Anaknya tampak senang. Menurutnya, terkadang kesepian sesehar...

Menyadari Hal Duniawi dan Dosa Kita

Di dunia ini, sekarang ini. Banyak sekali hal dan tantangan yang harus kita hadapi. Hal-hal duniawi cenderung lebih menarik, jauh lebih menarik, ketimbang hal-hal yang berbau rohani. Saat pertanyaan ini kita ajukan pada diri kita masing-masing: Kenapa hal duniawi itu bisa menjadi mayoritas dalam diri kita, ketimbang hal minoritas? Jawabannya pasti cepat sekali kita temukan. Menyenangkan, memuaskan, memberi suatu hasil yang instant dan cepat, dan sebagainya. Apakah Allah menghendaki semuanya itu? Rasul Paulus pernah berkata, hiduplah didalam Roh, bukan didalam daging. Allah akan menyayangi anak-anak-Nya yang hidup didalam Roh. Banyak sekali buah-buah yang dapat kita petik seperti sukacita, kesabaran, dan sebagainya. Sedangkan jika kita hanya mengikuti nafsu duniawi saja, maka kita akan mendapat kesenangan secara jasmani dan instant, namun Allah tidak menyukai hal itu sama sekali. Sebenarnya, hal duniawi dan perbuatan dosa itu sering kita lakukan sehari-hari, dan seringkali kita tida...

Komitmen Diri Kepada Tuhan

Setiap kita, pasti adalah manusia biasa. Kita hanyalah makhluk yang tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan akan dunia ini. Lalu, siapakah yang bisa untuk melakukan segala sesuatunya? Menjadi pemimpin akan dunia yang gelap ini? Jawabannya hanya satu: Tuhan Yesus Kristus. Setelah saya cari sekian lama, hal apa yang membuat saya awalnya percaya pada Kristus? Kematian . Bagi kita, terutama anak-anak dan remaja, hal ini tampaknya tidak pernah kita pikirkan dan renungkan secara sungguh-sungguh. Kematian, ya hanya proses kita mengalami kematian tubuh, tidak bergerak dan tidak bernafas. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimana dengan roh kita? Jiwa yang selama ini melekat dalam diri kita.. Inilah yang saya renungkan dengan sungguh-sungguh. Kemanakah roh kita setelah kita mati. Dan satu ayat yang telah menjawab pertanyaan tersebut ada didalam Yohanes 11:25-26 "...Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan se...