Langsung ke konten utama

Postingan

Kesuksesan

Kali ini saya akan menulis suatu hal yang berbeda dari hal sebelumnya. Lebih santai, dan bertema umum. Saya akan membahas dan meluruskan persepsi kita mengenai kesuksesan. Sebelum membahas kesuksesan itu sendiri, lebih baik kita bertanya pada diri kita sendiri: apa itu kesuksesan? Untuk seorang anak kecil, mungkin kesuksesan dapat mereka artikan seperti berhasil berjalan (untuk bayi menjelang batita mungkin), berhasil mendapat apa yang mereka inginkan dari orangtua, menjadi juara satu dalam lomba menyanyi dan sebagainya. Untuk seorang pelajar, kesuksesan bisa berarti mendapat nilai A atau sempurna secara terus menerus, mendapat predikat siswa terbaik dan memiliki banyak teman. Orangtua menganggap kesuksesan adalah ketika mereka memiliki harta dimana-mana (yang tidak terhitung lagi), punya rumah dan mobil mewah, pekerjaan terpandang, status terhormat, anak yang pintar dan lainnya. Masih banyak lagi definisi kesuksesan dalam masyarakat luas, dan kita semua pasti tahu kesuksesan seperti ...

Apakah Tuhan selalu Baik?

Satu hari, saya bertemu sebuah keluarga yang sangat akrab. Kita bilang, mereka bahagia dan sukses. Orangtuanya kerja di perusahaan terkenal di kota. Anak-anaknya sekolah di sekolah favorit. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka tampak akur, tidak ada perselisihan dan lainnya. Setiap minggu mereka ke gereja bersama. pergi untuk merayakan hari Tuhan dan melayani-Nya. Saya pikir, mereka adalah sebuah keluarga yang sempurna. Sampai pada suatu hari, saya diceritakan orang-orang kalau ternyata orangtua mereka jarang pulang cepat. Mereka selalu kembali ke rumah setelah larut malam, ketika anak-anaknya tertidur. Dan kembali pergi bekerja pagi buta, sebelum anak-anaknya bangun. Rutinitas itu terus terulang bertahun-tahun. Sampai satu hari, anak laki-lakinya menginjak umur 15 tahun. Ia berulang tahun dan meminta beberapa hal pada orangtuanya. Orangtuanya dengan senang hati langsung memberikan segala yang diminta anaknya itu. Anaknya tampak senang. Menurutnya, terkadang kesepian sesehar...

Menyadari Hal Duniawi dan Dosa Kita

Di dunia ini, sekarang ini. Banyak sekali hal dan tantangan yang harus kita hadapi. Hal-hal duniawi cenderung lebih menarik, jauh lebih menarik, ketimbang hal-hal yang berbau rohani. Saat pertanyaan ini kita ajukan pada diri kita masing-masing: Kenapa hal duniawi itu bisa menjadi mayoritas dalam diri kita, ketimbang hal minoritas? Jawabannya pasti cepat sekali kita temukan. Menyenangkan, memuaskan, memberi suatu hasil yang instant dan cepat, dan sebagainya. Apakah Allah menghendaki semuanya itu? Rasul Paulus pernah berkata, hiduplah didalam Roh, bukan didalam daging. Allah akan menyayangi anak-anak-Nya yang hidup didalam Roh. Banyak sekali buah-buah yang dapat kita petik seperti sukacita, kesabaran, dan sebagainya. Sedangkan jika kita hanya mengikuti nafsu duniawi saja, maka kita akan mendapat kesenangan secara jasmani dan instant, namun Allah tidak menyukai hal itu sama sekali. Sebenarnya, hal duniawi dan perbuatan dosa itu sering kita lakukan sehari-hari, dan seringkali kita tida...

Komitmen Diri Kepada Tuhan

Setiap kita, pasti adalah manusia biasa. Kita hanyalah makhluk yang tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan akan dunia ini. Lalu, siapakah yang bisa untuk melakukan segala sesuatunya? Menjadi pemimpin akan dunia yang gelap ini? Jawabannya hanya satu: Tuhan Yesus Kristus. Setelah saya cari sekian lama, hal apa yang membuat saya awalnya percaya pada Kristus? Kematian . Bagi kita, terutama anak-anak dan remaja, hal ini tampaknya tidak pernah kita pikirkan dan renungkan secara sungguh-sungguh. Kematian, ya hanya proses kita mengalami kematian tubuh, tidak bergerak dan tidak bernafas. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimana dengan roh kita? Jiwa yang selama ini melekat dalam diri kita.. Inilah yang saya renungkan dengan sungguh-sungguh. Kemanakah roh kita setelah kita mati. Dan satu ayat yang telah menjawab pertanyaan tersebut ada didalam Yohanes 11:25-26 "...Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan se...

Jalan Yang Benar

Pada suatu malam berkabut , seorang sopir taksi sedang mengendarai kendaraannya, mencari orang yang hendak memakai jasanya. Dan setelah berputar selama 10 menit di suatu daerah, ia mendapatkan seorang penumpang laki-laki. Pakaiannya rapi, dan sangat kelihatan bahwa beliau adalah orang penting dalam suatu perusahaan. "Antarkan saya ke tempat ini", kata orang itu sambil menunjukkan secarik kertas pada sopir tersebut. "Tentunya dengan jalan tercepat, karena saya buru-buru". Sopir itu mulai menjalankan taksinya dan mencari jalan tercepat menuju tujuan itu. Satu, dua, tiga belokan ia lewati. Tetapi ketika beberapa belokan setelahnya, sang sopir sadar bahwa ia telah mengambil jalan yang salah.  Jika ia teruskan melewati jalan itu, ia tidak terlalu hafal dengan arah yang akan ditempuhnya. Sedangkan ia tidak bisa berputar balik karena jalan tersebut hanya satu arah. Melihat sopir tersebut kebingungan, dan ia tahu persis apa yang dipikirkannya, ia menyodorkan peta digita...

Iman Anak Allah

Ketika kita menemukan 2 lembar uang di tengah jalan. Yang satu bernilai seribu rupiah, sedangkan yang satunya bernilai seratus ribu rupiah. Tapi, uang seratus ribu rupiah tersebut tampak kotor, telah terinjak oleh banyak pejalan kaki yang melintasi tempat itu. Sedangkan uang seribu disebelahnya, tampak bersih dan belum terinjak. Ketika Anda diberi pilihan untuk mengambil salah satu dari keduanya, manakah yang akan Anda ambil? Tentu, hampir semua orang akan memungut dan mengantongi uang seratus ribu yang telah terinjak-injak. Pertanyaannya adalah MENGAPA? Itu adalah sifat dasar manusia. Mirip dengan sikap Allah terhadap kita, tapi kita memiliki sifat dasar yang berbeda. Ketika Ia dihadapkan pada dua orang manusia. Yang satunya berkedudukan tinggi, terpandang di dunia, seorang yang banyak hartanya, dan tidak pernah tercela sedikitpun. Tetapi ia mengalami kekeringan rohani dan tidak mempunyai iman akan Anak-Nya. Yang seorang lagi, ia seorang miskin, tidak mempunyai apapun dan hidup hany...

Rencana Indah-Nya

Sebuah keluarga tinggal di tepi kota, jauh dari pusat keramaian. Keluarga ini memiliki seorang anak lelaki, dan kedua orangtuanya mempunyai penghasilan yang kecil. Suatu hari, sang anak meminta sepotong kue kepada kedua orangtuanya,"Aku ingin sepotong kue . Aku mohon Ayah, Ibu. Hanya sekali dalam seumur hidupku." Tetapi kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepala mereka, dan sang anak pergi berlalu. Hari berikutnya, anak kecil ini kembali kepada orangtuanya dan meminta hal yang sama. "Apakah kali ini aku boleh mendapatkannya? Hanya sepotong kecil saja.". Dan kedua orangtuanya merespon dengan cara yang sama. Menggelengkan kepala mereka.. Anak ini sedih dan berpikir bahwa kedua orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi. Sampai beberapa hari kemudian, ia memutuskan untuk bertanya,"Ayah, Ibu. Apakah kalian berdua menyayangiku? Kalau begitu, mengapa aku tidak  boleh mendapatkan kue tersebut?". Kedua orangtuanya terdiam dan tidak menjawab apa-apa. Anak ...